Dewi Lanjar Penguasa Pantai Utara

Dewi Lanjar, Sang Penguasa Pantai Utara

Dewi Lanjar atau Dewi Rara Kuning menurut hikayat dan cerita mitologi rakyat Pekalongan adalah Penguasa Laut Utara atau Ratu Pantai Utara. Menurut berbagai sumber, perempuan penguasa pantai sekitaran Teluk Pekalongan itu adalah seorang putri, entah putri raja atau bangsawan kerajaan yang ditinggal mati suaminya. Sehingga menempel-lah julukan lanjar yang berarti janda belia yang belum memiliki keturunan.

Disini penulis tak hendak menceriterakan asal usul atau mengulang cerita-cerita yang sudah banyak tersaji dalam buku ataupun yang berceceran dihasil pencarian Google. Penulis hanya akan memberikan pandangan atau contoh-contoh kasus yang terjadi di daerah Pekalongan dan hal itu masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Anda boleh percaya atau  tidak, itu hak anda. Mungkin sama halnya ketika anda mempercayai adanya hal ghaib, tak kasat mata dan hal-hal yang berbau transendensi.

Untuk menghilangkan kesan mistis dan menakutkan, Penulis akan tetap menggunakan gaya penulisan seperti  biasanya, sehingga saat anda membaca sendirian tengah malam tak perlu ketakutan jika mendengar suara glodakan di dapur. Itu pasti kucing, yang disuruh Dewi Lanjar!

Dewi Lanjar sebagai Penguasa Laut Utara.

Banyak yang meyakini bahwa Dewi Lanjar adalah Penguasa alam ghaib laut pesisir utara Pulau Jawa. Kekuasaannya meliputi Pantai-pantai di bagian utara dari daerah Jawa Barat hingga Jawa Timur. Namun pengaruh kekuasaan tersebut entah hingga keujung Pulau Jawa atau  tidak, atau inheren dengan kekuasaan Kerajaan Mataram waktu itu yang hanya sampai daerah sekitar Karawang, Sedangkan Batavia pada saat itu masih dikuasai Kumpeni.

Karena menurut ceritanya, Dewi Lanjar pernah bertemu dengan Penguasa Mataram dan Penguasa Laut Selatan hingga dijadikan abdi dan diberikan kekuasaan di daerah Pantai Utara. Bahkan Dewi Lanjar pernah diberi tugas dari Ratu Kidul untuk mengganggu Raden Bahu. Apakah Raden Bahu ini adalah Adipati Bahurekso sang pemimpin pasukan Mataram yang menyerang VOC? Penulis belum memiliki sumber mengenai hal itu.

Cara Bertemu Dewi Lanjar

Walaupun penulis belum pernah bertemu, atau mempunyai keinginan untuk bertemu dengan Dewi Lanjar yang katanya cantik sekali, Namun jika anda memiliki keinginan itu, Sepertinya bisa diwujudkan. Dengan cara bagaimana? Mestinya dengan laku batin dan melengkapi persyaratan kosmis untuk mempertemukan dua makluk yang berbeda dimensi. Cara mudahnya adalah melalui Juru Kunci atau orang pintar yang mempunyai akses ke Keraton Pantai Utara. Pengen cepet kaya? Bisa kok minta pesugihan ke beliau, Nanti penulis ceritakan beberapa contoh supaya anda makin tertarik.

dewi lanjar
Ilustrasi Dewi Lanjar yang tentunya lebih cantik aslinya.

Istana Dewi Lanjar di Pantai Slamaran Pekalongan.

Konon kabarnya menurut yang sudah pernah bertamu, Keraton Nyai Lanjar yang dipercaya berada di Pantai Slamaran Pekalongan itu terlihat sangat mewah sekali. Segala perabotan dan bangunan berlapis emas, Pintu gerbangnya pun megah dan dijaga oleh bala tentara ghaib yang bentuknya seperti kuda namun berkepala manusia. Jangan membayangkan my little pony, Beda banget pokoknya. Konon ada 7 pintu gerbang yang terdapat di area ghoib wilayah pesisir Kota Pekalongan.

pantai slamaran
Ilustrasi Pantai Slamaran

Kebayang nggak sih kalo masuk ke istana berlapis emas, sedangkan cincin nikah sepuhan emas yang penulis punyai waktu nikah pun udah sempat masuk Pegadaian 5 kali hingga akhirnya menghilang di Toko Emas. Sepertinya kapan-kapan harus mencoba kesana, Siapa tau nemu ceceran genting berlapis emas yang bisa dibawa pulang.

Banyak cerita bahwa istana kerajaan pantai utara itu megah sekali, bahkan ketika memasukinya harus melalui sebuah jembatan dari aliran sungai yang jumlahnya ada empat. Bangunan megah dan mewah tersebut dihuni oleh para pengikutnya dan dijaga oleh ribuan pasukan.

Dewi Lanjar sebagai Saudagar Batik.

Masyarakat Pekalongan, entah yang mana, Masih banyak yang percaya dengan klaim bahwa Dewi Lanjar itu ada dan bisa berinteraksi dengan manusia pada umumnya. Ini nggak main-main, dan bukan sekedar katanya-katanya. Penulis memang belum pernah berjumpa dengan Dewi Lanjar dan harapan-nya sih, Kalo ketemu ya damai-damai aja, Piss. Tapi Guys, Dilapangan ternyata banyak orang ngaku bekerja dan berbisnis dengan “Bu Kaji”, begitu mereka memanggilnya.

Bu Kaji ini setiap malam Selasa atau Rabu, (dengan pasaran kliwon kalau tidak salah) biasanya akan berbisnis dengan mengunjungi Pasar Banjarsari dengan menaiki Kereta Kuda yang berbunyi krincing-krincing. Beliau kulakan batik dari para pedagang. Lho, Kalo malam kan pasarnya tutup? Namanya juga ghaib, Kalo transaksinya di siang hari namanya Live! Nah, Bagi para juragan-juragan batik yang barangnya nggak laku, biasanya mereka mencari cara agar bisa bertemu dengan Bu Kaji agar daganganya bisa dibeli pada saat beliau mendatangi pasar.

Bayarnya pakai apa? Ya pakai duit Republik Indonesia lah, Masa pake uang monopoli? Apakah ada resikonya? Selalu ada resiko ketika kamu menyekutukan Tuhan mu dan menegasikan rejeki dan barokah-Nya. Itu sudah pasti, Nah tinggal resikonya berani ngambil atau tidak. Orang kalo mau cepat kaya ya harus mau ambil resiko. Resiko ketangkep KPK misalnya.

Dewi Lanjar sebagai Pembeli Besar.

Penulis nggak tahu persis, buat apa Dewi Lanjar membeli batik. Apakah batik-batik itu dikenakannya sehari-hari atau dibagi-bagikan saat lebaran kepada rakyatnya. Agaknya beliau hanya memberikan solusi kepada orang-orang yang tak sabar untuk cepat kaya dengan cara membeli batiknya. Pernah ada beberapa selentingan yang diyakini terjadi  ada beberapa saudagar batik di Pekalongan yang mengekspor batiknya ke Kerajaan Pantai Utara. Waduh, gimana caranya perusahaan kargo mengirimkan ratusan kodi baju batik ke kerajaan ghaib?

Perkara benar atau salah terserah anda yang menilai ya, Penulis cuma bercerita berdasarkan kabar-kabar yang belum pernah sekalipun diverifikasi. Tapi lanjut ajalah ya. Cara mengirimkan paketan batik tersebut adalah sederhana. Dengan menggunakan kargo (truk) dengan alamat riil dan detail, semisal alamat tujuan ada di RT sekian RW sekian, Desa ini, Kecamatan ini, Kota Kudus atau Jepara misalnya. Nah nantinya, Pada saat perjalanan pengiriman tersebut, truk itu akan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Nah, kalo sudah ada korban jiwa, maka paketan dianggap telah sampai. Dan garansi uang pembayaran akan diterima penjual saat itu juga. Ngeri juga ya? Tapi cairnya cepet, nggak pake tempo-tempoan atau nagih-nagih kaya pengemis.

Dewi Lanjar Pengusaha dan Penyedia Lapangan Kerja

Karena profilnya adalah saudagar batik, Maka beliau membutuhkan pranggok, desainer, tukang lorot, tukang nyolet dan segala keperluan untuk memperlancar usahanya. Beliau juga tak henti membangun dan mempercantik kerajaannya. Nah, ada hal yang unik disini. Ternyata ada juga sekelompok pekerja manusia yang ngaku mencari nafkah di Kerajaan Pantai Utara. Konon para pekerja itu adalah masyarakat sekitar Pekalongan yang bekerja secara kontrak dan profesional untuk membangun atau melakukan pekerjaan apa saja yang dibutuhkan dikerajaan itu. Semisal membangun rumah, jembatan, memrenovasi bangunan dan pekerjaan fisik lainnya.

Agak aneh memang, Kerajaan ghaib tapi ada pekerjaan fisik. Tapi ya begitulah cerita yang lalu lalang dalam pembicaraan tak jelas di Poskamling atau grumungan orang-orang. Dan saat orang-orang itu bercerita, Raut muka-nya tidak nampak ada guyonan sama sekali bahkan cenderung semi persuasif, mengajak lawan bicara untuk mempercayainya.

Bagi orang-orang yang bekerja di Kerajaan itu, Setelah selesai pekerjaannya ya akan mendapatkan bayaran sesuai perjanjian. Penulis tidak tahu apakah motif dari para pekerja itu didahului rencana mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang cepat dan mudah tanpa harus bersaing dengan yang lainya, Atau memang saking tidak ada pekerjaan sehingga terpaksa mengambil pekerjaan itu. Penulis kebingungan menyimpulkan apakah pekerjaan tersebut masuk kategori pesugihan atau kah sekedar motif kemalasan orang yang tidak mau bekerja di dunia nyata secara jantan.

Yang jelas, Tentunya Ibu Dewi baik sekali, Mempekerjakan orang dan ikut membantu pemerintah menuntaskan pengangguran dan meningkatkan taraf hidup. BIla anda tertarik dan sedang nganggur kesusahan, Mungkin bisa jadi altenatif yang menarik.

Dewi Lanjar sebagai Dewi Penglarisan.

Tidak semua hal yang berhubungan dengan beliau itu menakutkan dan berbau menyekutukan. Banyak orang percaya, kemunculan “Bu Kaji” di pasar juga memberikan dampak positif pendapatan. Katanya, Jikalau “Bu Kaji” mampir ke pasar membeli dagangan, Maka sang penjual biasanya akan laris beberapa waktu kemudian. Wah kalo gitu aku juga mau.

Terus juga, Dewi Lanjar kerap menyamar sebagai orang kumuh atau peminta-minta. Barangsiapa berlaku kasar pada orang tersebut maka rejekinya akan seret. Begitu juga sebaliknya, Jika memperlakukan baik terhadapnya maka rejekinya akan melimpah. Mirip-mirip acara reality show juga yah.

Orang-orang di pesisir Slamaran juga banyak cerita tentang seringnya Dewi Lanjar menyamar sebagai manusia. Semisal menyamar sebagai murid di sebuah sekolah. Biasanya sang pengajar akan kebingungan sekaligus ketakutan, Muridnya yang biasanya berjumlah 30 kali ini jumlahnya meningkat menjadi 31 orang. Guru tersebut menghitung ulang lagi dalam hati, dan hitungannya tidak salah, Jumlahnya lebih satu dari jumlah seharusnya. Jika guru tersebut berlaku baik pada murid baru itu, biasanya karir sang guru akan melesat beberapa waktu kemudian. Sungguh baik hati Dewi Lanjar ini, sering nge-prank dan memberikan peningkatan karir.

Dewi Lanjar sebagai Dewi Kematian.

Penulis mungkin agak nekat menceritakan ini, tapi gak papalah agar bisa menjadi cakrawala bagi pembaca website ini. Semoga “Bu Kaji” nggak apa-apa. Pernah ada cerita (Ini based on true story ya, Bukan katanya-katanya), tentang seorang gadis yang sedang menikmati sore hari di Pantai Slamaran. Kenapa gadis, Karena pada waktu itu, Si perempuan masih belia dan belum menikah. Gadis itu tak sengaja memetik bunga yang indah dari sebuah tetumbuhan yang ada di pantai itu.  Sepintas saat itu nampak tidak terjadi apa-apa, namun setelah pulang ke rumah, Bencana mistis terjadi.

dewi lanjar
Foto hanya ilustrasi

Ternyata, Bunga yang diambil itu adalah properti milik Kerajaan Pantai Utara. Karena diduga mengambil tanpa ijin, maka datanglah utusan dari Kerajaan ke rumah sang gadis untuk mengambilnya. Pengambilan bunga itu juga harus berikut orangnya, dalam hal ini jiwanya. Sang Gadis, sebut saja Bunga (aduh kok kesannya kaya korban pemerkosaan), mengalami kesurupan berhari-hari. Berteriak-teriak tidak karuan, mengamuk dan melakukan hal-hal diluar kesadaran manusia.

Orang tua Bunga kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Bunga dibawa ke Dokter dan dirujuk ke Dokter jiwa namun tidak ada perkembangan. Akhirnya sampai juga ke “orang pintar” (yang nggak minum tolak angin tentunya). Orang pintar itu memberi tahu bahwa Bunga akan diambil oleh Keraton Pantai Utara dan dijadikan abdi disana atau bahasa sederhananya Bunga akan mati diminta oleh penguasa pantai utara. Orang tua bunga menangis dan memohon-mohon bagaimana caranya agar Bunga diselamatkan dengan apapun caranya.

Penguasa Pantai yang meminta Tumbal

Sedikit melebar dari cerita, Memang sepertinya ada beberapa cerita tentang pengambilan nyawa manusia karena permintaan dari penguasa laut baik Laut Utara atau Selatan. Cerita seperti ini sudah lazim didaerah pesisir pantai, apalagi di Jogja. Kalau ada korban nyawa karena tenggelam, pasti akan di generalisir seperti ini : “Diminta oleh penguasa laut”. Orang yang menjadi korban dari generalisasi ini biasanya memiliki kategori. Kategori ini bukan asal orang, Pasti mengandung ciri-ciri tertentu. Misalnya kalo di daerah Pantai Jogja, Orang yang berpakaian Hijau Pupus.

Generalisasi orang yang meninggal di Pantai karena diminta sebagai tumbal Penguasa Pantai tentu tidak sepenuhnya benar, Namun jangan salah, masih banyak orang yang mempercayai hal ini. Padahal banyak faktor yang membuat adanya korban jiwa di Pantai. Misalnya karena faktor kontur pantai yang curam atau Ada nya fenomena arus balik (Rip Current) dan kecerobohan manusia itu sendiri. Masalah pakaian Hijau Pupus dan Fenomena Rip Current di Pantai selatan Jawa pernah penulis tuliskan panjang lebar di sebuah artikel Tips Berwisata di Pantai. Klik saja link itu bila ingin membacanya lebih lanjut. Eh tapi nanti saja, Baca yang ini dulu aja.

Kembali ke Laptop, eh Bunga maksudnya. Kondisi Bunga makin lama makin drop hingga tak sadarkan diri untuk jangka waktu cukup lama. Bunga mengalami semacam kondisi Koma, Kalau versi mistisnya, Jiwa milik bunga sedang diperebutkan antara Penguasa Ghaib Pantai Utara dengan Orang-orang yang membantu agar Bunga bisa kembali ke pangkuan orang tuanya. Orang-orang ini biasanya mempunyai semacam kanuragan dan kepandaian komunikasi kosmik yang bisa menghubungkan dengan makhluk dari dimensi lain. Biasanya mereka disebut Orang Pintar atau Dukun atau apapun sebutan-nya. Yang jelas mereka memiliki kemampuan khusus dalam hal yang kasat mata.

Penulis tidak tahu apakah orang-orang pintar itu menggunakan metodologi Kejawen, Islam atau versi Voodoo Amerika, Sumpah penulis tidak paham soal ini. Apalagi mengkategorikan mereka sebagai penganut ilmu hitam atau putih. Penulis hanya manggut-manggut saja ketika diceritai hal ini dari siang sepulang sekolah secara sambung-menyambung hingga 3 bulan lamanya.

Bagaimanapun juga, Tuhan lah tempat meminta.

Setelah melalui ritual yang cukup lama dan menguras aspek mental dan spiritual. Akhirnya dicapai kesepakatan antara perwakilan pihak penyelamat bunga dengan Panglima Kerajaan Laut Selatan. Lho kok bisa ke Pantai Selatan? Ternyata jiwa milik bunga berada di Pantai Selatan, Diminta oleh Ratu Kidul. Bagi yang tahu, Panglima Kerajaan laut selatan itu berwujud seperti yang penulis utarakan diatas, Berbadan kuda namun berkepala manusia (centaur), Namanya tidak usah disebut ya, Ntar malah dateng ke mimpimu, kan gawat!

dewi lanjar pekalongan
Ilustrasi centaur

Kenapa menguras aspek mental dan spiritual, Karena setiap harinya di rumah Bunga selalu ada saja kejadian aneh-aneh seperti

  • Angin lesus yang kerapkali datang tiba-tiba.
  • Suara auman hewan buas di sekitar rumah.
  • Kedatangan hewan-hwan aneh ke dalam rumah
  • Mimpi buruk yang menghantui seluruh anggota keluarga
  • Dan juga kondisi Bunga yang makin memburuk tak menentu

Penguasa pantai selatan tetap bersikeras meminta bunga untuk dibawa ke Kerajaan dan dijadikan pengikut. Orang tua Bunga hanya bisa pasrah kepada Sang Penguasa dan tetap berdoa memohon agar Bunga dikembalikan seperti sediakala. Dengan berbagai treatment baik doa, ikhtiar, ruwat dan upacara-upacara khusus yang didukung oleh beberapa orang yang mempunyai ilmu kanuragan lebih (dan juga melibatkan pihak Keraton Jogja), Akhirnya Bunga bisa kembali ke pangkuan orang tuanya. Penulis tidak tahu deal apa yang bisa membuat Bunga bisa kembali ke rumah. Apakah hanya diminta saja tanpa kompensasi apapun atau dengan syarat. Hingga saat ini deal itu masih misteri bagi penulis, Mengingat penulis belum bisa bertemu lagi dengan pencerita.

Kesimpulan yang didapatkan penulis saat itu hanyalah Bunga cepat ditangani oleh pihak yang tepat sehingga tidak hilang menjadi pengikut alam ghaib. Penulis juga pernah mengalami kejadian yang serupa meskipun bukan mengalami sendiri, melainkan orang Jakarta yang sedang berwisata di daerah Pantai Selatan. Mendengar kejadian seperti itu, Penulis sempat menceriterakan teknis yang sama seperti kejadian bunga, Meminta tolong kepada Tuhan juga melakukan ihktiar kosmik melalui orang-orang yang memahami hal tersebut.

Namun sayangnya, hal itu tak terjadi, Perempuan Jakarta yang “diambil” oleh Penguasa laut selatan dari Hotelnya menginap, akhirnya meninggal. Meninggalnya menurut versi mistik ya meninggal karena diminta Keraton Kidul, Sedangkan versi rasionalnya Korban mengalami kecapekan, dehidrasi dan menderita penyakit dalam. Mana yang benar? Wallahu Alam.

Oh iya, Kini Bunga hidup di Jogja selayaknya orang normal seperti umumnya, Sedangkan sang pencerita yang merupakan adik kandungnya hilang entah kemana. Misteri lagi!

Dewi Lanjar Sebagai Simbol

Setelah membaca cerita yang cukup membosankan diatas, Sebenarnya ada hal-hal yang bisa kita petik hikmahnya. Ada atau tidaknya Dewi Lanjar itu menjadi pilihan prinsip masing-masing. Namun penulis menyimpulkan bahwa cerita Dewi Lanjar merupakan simbol bahwa ada versi lain dari apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui.

Cerita Dewi Lanjar juga memberikan simbol bahwa untuk bisa hidup dan bertahan di muka bumi harus melakukan aktifitas-aktifitas survival yang normal. Jika ingin kaya, maka harus melakukan hal-hal yang mendukungnya bukan mencari jalan termudah apalagi dengan mengorbankan orang lain. Itu bukan cara seorang khalifah di muka bumi.

Sedangkan dari cerita tentang tumbal penguasa pantai, Dewi Lanjar merupakan simbol penantang bagi kita semua untuk terus mempelajari fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita. True Story tersebut mengantarkan kita pada titik dimana kita harus pasrah dan disatu sisi tidak boleh berhenti ikhtiar berusaha. Sebuah metode yang cukup sulit dilakukan apabila kita sendiri tak paham apa arti pasrah dan ikhtiar.

Konklusi

Penulis tak hendak menakut-nakuti pembaca, atau menyuruh pembaca mempercayai cerita diatas apalagi mendorong pembaca membuat asumsi bahwa penulis paham soal beginian. Tidak sama sekali, Penulis hanya menguraikan cerita yang ada di memori yang tersisa agar pembaca tahu dan punya wawasan sedikit tentang hal-hal seperti ini.

Sebagai contoh, Dulu Kota Pekalongan di sounding sebagai calon kota pelabuhan besar. Sebuah pelabuhan tentunya membutuhkan laut yang dalam untuk sandar kapal besar. Namun apa daya, Laut Pekalongan mengalami pendangkalan terus menerus. Dahulu pernah ada Kapal Keruk Si Gareng yang bertugas membersihkan muara sungai secara periodik, Namun pendangkalan tetap terjadi dan cita-cita pembangunan pelabuhan besar tinggal mimpi.

Manakah  yang harus anda percayai

  1. Memohon restu kepada Penguasa Ghaib Laut Utara agar diberikan ijin membangun Pelabuhan, karena denger-denger Dewi Lanjar tidak setuju.
  2. Melakukan riset ilmiah untuk mempelajari Pendangkalan Pantai serta sungai dan mencari solusi untuk mengatasinya.

Kalau penulis sih nggak dua-duanya karena pembangunan Pelabuhan Perikanan terbesar Nusantara sudah tidak menjadi bagian dari mimpi, Sekarang yang dibangun adalah Wisata Pantai. Lha tapi kalo nanti Dewi Lanjar minta tumbal orang yang sedang wisata gimana? Misteri lagi.