Tempat Bersejarah di Pekalongan

Tempat Bersejarah di Kota Pekalongan

Artikel tentang Tempat Bersejarah di Kota Pekalongan ini merupakan cara untuk mengenang masa lalu generasi 80-90an kepada kota yang dicintainya sepanjang hayat. Tapi jangan sedih dulu, karena artikel ini bukan kajian ilmiah yang mengandung unsur pendidikan sejarah pada umumnya, melainkan hanya sebagai kembang nostalgia para pembaca website ini yang makin menua, yang semoga bisa membangkitkan memori masa silam yang kadang indah, juga kadang ora karuan.

Penulis ingin mengajak para pembaca untuk memasuki kapsul dimensi waktu, kembali ke masa lalu, Dimana mungkin ada beberapa fakta atau fenomena yang menyerempet kenangan masa kecil anda di Pekalongan. Mengenai kebenaran fakta atau keutuhan informasinya, Jelas tidak perlu di perdebatkan karena ini hanya untuk bersenang-senang saja.

Yuk kita mulai menelusuri jejak masa lalu yang mungkin bisa membuat anda bahagia walaupun sesaat, Sebelum esok hari melakukan ritual wajib seperti Membayar tagihan, Mengisi dispenser yang kosong dengan galon yang baru, membeli gas berikut tabungnya, atau Pergi ke tukang tambal ban karena ban motor anda bocor kena paku tetangga.

Flamingo, Tempat Bermain Dingdong

Jaman dahulu di Jl. KHM Mansyur ada sebuah ruko kecil diutara jalan dekat dengan pertigaan Jalan Slamet. Ruko itu berkaca riben gelap bertuliskan Flamingo . Sebuah tempat bagi kami anak-anak ingusan yang setelah pulang sekolah, lantas berusaha meminta uang pada orang tua lalu ketika berhasil, Segera mengayuh sepeda kesana  untuk bersenang-senang.

Dengan modal 100 rupiah, Kita bisa memainkan beberapa game yang cukup menarik waktu itu. Kita bisa ingat awal-awal adanya game Street Fighter dengan karakter Ken, Ryu, Zagath, Bison, Dalshim, Honda, Chun Li dll. Masih terngiang pula, suara pukulan legendaris Pendekar Ken yang berbunyi kira kira begini : “Abukit..!! Abukit..!“. Entah telingaku yang salah atau gimana, Kedengarannya kokui pokoke.

Saking asyiknya main game ding-dong tersebut sampai lupa waktu biasanya akan berujung petaka, Sepeda hilang karena lupa ora di-sosi.  Kalau udah begitu, Nggagar! Mau pulang takut dimarahi orang tua. Nggak pulang juga nggak mungkin. Begitulah kira-kira rasanya penderitaan anak dekade 80-90an.

Majapahit, Amusement Centre.

Sama halnya dengan Flamingo, Majapahit Amusement Centre di depan Bioskop Fajar merupakan surga bermain Ding-dong bagi kami anak-anak generasi 80-90an. Dengan tempat yang lebih luas dan console lebih banyak, Majapahit bisa menampung gamer lebih banyak. Tempat ini sekarang menjadi bagian dari Hypermart, tepatnya dibagian paling utaranya.

Sepintas kelihatannya asyik, Pulang sekolah lantas pergi main game. Tidak semudah itu kawan, Saat disana kamu harus pandai-pandai berlagak miskin karena kalo kelihatan kaya pasti akan di-kompasi/di-klontengi oleh orang-orang yang sok jagoan dan onggrongan. Masih mending cuma uang yang diminta, kadang topi kesayangan satu-satunya pun di-zarig. Kasus kehilangan sepeda disini pun banyak terjadi, Kalo kasus kehilangan motor malah tidak ada, asale longko sing numpak montor.

Pasar Sayun Pekalongan

Pasar Sayun adalah Sasana Perbelanjaan berbagai barang yang berada pada bagian belakang Ruko-ruko di sebelah selatan Jalan Gajahmada. Tempat ini sekaligus berfungsi sebagai Terminal Kol angkutan kota. Sebenarnya Sayun itu semacam pasar sore, Soale buka-nya mulai sore hingga malam hari. Keberadaan Pasar Sayun itu merupakan relokasi dari Pasar THR Kebonrojo yang dulu berada di sisi barat Monumen. Mbiyek, Disitu ada jalan yang dipakai para pedagang kaki lima untuk berjualan.

Ada beragam pedagang yang menghuni Pasar Sayun dari mulai jualan Kaos, Baju, Celana, Sruwal, Sabuk, Tesmak hingga jualan Ikan Hias. Penulis dan mungkin beberapa diantara kalian, Pernah merasakan suka cita mendalam ketika dibelikan celana jins model wash atau Baju lebaran yang bisa di-linting di Pasar Sayun. Di-dalam Pasar Sayun yang bagian belakang, Dahulu terdapat Warung Soto Tauto Legendaris H Rochmani yang kini berpindah ke Jalan Kurinci. Ke sebelah baratnya lagi ada Gudang PJKA (sebelum menjadi PT. KAI) yang digunakan sebagai sarana olahrahga Badminton.

Bioskop Remaja & Merdeka.

Ada dua buah bioskop besar dan megah berhadap-hadapan di Jl. Merdeka yang saat itu belum menjadi jalur utama perlintasan transportasi angkutan barang. Bioskop-bioskop ini menyajikan film-film lokal dan internasional (India leke-leke maksudnya). Penulis yakin, Jika pembaca mengenali Amitabh Bachan, Sri Devi, Sanjay Dutt, dan Bintang India lainnya pastilah dari bioskop ini. Bioskop ini juga sarana yang tepat bagi anak-anak mbeler yang belum punya izin merokok untuk menikmati kepulan asap tembakau tanpa perlu takut dikonangi siapapun. Di-dalam gelapnya bioskop yang tak ber-AC, Tentunya bebas dan sah saja untuk nyumet rokok.  Sungguh pengalaman belajar merokok yang penuh liku dan biaya tinggi.

Bioskop Fajar dan Rahayu.

Jikalau Merdeka dan Remaja berhadapan, Rahayu dan Fajar berdampingan dengan damai bagaikan Pengantin. Dua Bioskop legendaris ini pasti memberi warna pada sejarah hidup anak-anak Kauman, Noyontaan, Sugihwaras, Poncol dsb. Adanya Extra Show di hari Minggu pada Jam 12 siang, membuat kami punya kesempatan untuk menonton filmnya Chou Sing Che, Chen Lung, Samo Hung dll  pada waktu yang diperbolehkan oleh orang tua. Kami-kami ini ke bioskop ya cuman nonton Cino gelut, Atau kalo nggak nonton India balas dendam. Sedangkan film Indonesia biasanya bertema Ranjang, Noda, dan Asmara. Ajip pora?

bioskop rahayu

Jam pemutaran bioskop pada jaman dahulu itu adalah Jam 2 siang, 5 sore, 7 petang dan 9 malam. Walaupun sekolah pulang pada jam 1 kurang 1/4, Rasanya tidak cukup waktu untuk mengejarnya, Karena sore harinya saat Ashar, Kami-kami ini harus ngaji di Langgar. Apalagi sore hingga malam, Jelas tidak ada waktu untuk nonton bioskop, Karena itu waktunya belajar, Ciyee!. Yang mungkin bisa dikejar pada malam hari adalah acara Apresiasi Film Indonesia di TVRI, yang menyajikan trailer film-film yang akan tayang.  Masih inget nggak lagunya? “Aku cinta, Kamu cinta, Semua Cinta, Buatan Indonesia….

Monumen Djoeang 45 Pekalongan.

Bangunan bersejarah Monumen Djoeang 45 ini dulu mungkin nilainya setara Monas atau Menara Eiffel bagi orang Pekalongan. Pada saat malam  libur, Semua orang tertuju ke situ, Orang yang jalan-jalan juga pasti melewati daerah itu, Anak-anak gaul nongkrongnya juga disitu. Udah nggak mikir lagi soal banyaknya nyamuk yang ngrubung, Bisa nongkrong di Monumen dan ngaruh-aruhi konco yang lewat itu merupakan sesuatu kebanggaan tersendiri. Apalagi sambil nyeruput “zrob” dalam bungkus tas plastik hitam dengan sedotan. Sak pore!

monumen pekalongan
Monumen Djoeang 45 Pekalongan pada siang hari. dok : http://azharhasnarany.blogspot.com/

Di area Monumen ini pula banyak bertengger “Ubel-ubel“. Tau nggak barang apakah itu? Baiklah, Penulis akan coba jelasin, tapi sebentar. Ini sub-judulnya Monumen Djoeang namun yang dibahas ubel-ubel? Nggak relevan sekali, tapi biarlah., Pak ora!

Ubel-ubel itu adalah istilah slang untuk menyebut perempuan yang gampangan diajak kongkow dan tidak bernuansa komersial. Perempuan ini biasanya cukup modis dan tampilannya cukup lumayan. Bukan sembarang perempuan asal-asalan atau WTS yang meminta bayaran. Dengan sejumput kata-kata rayuan gombal kalam dan ajakan untuk traktiran makan (bakso atau soto), Sudah cukup untuk membuat dia bisa dibawa kongkow bareng. Biasanya mereka tidak hanya cangkruk di area Monumen saja, namun di beberapa tempat lain.

Ubel-ubel ini ngeksis menunggu para tuan muda mengajaknya jalan-jalan secara kolosal. Motifnya mungkin hanya soal style saja, karena style atau gaya hidup itu hingga sekarang merupakan tolok ukur yang bisa dilihat dengan mata dan bisa dijadikan pride tersendiri dimata lingkungannya. Udah pernah ngebawa Ubel-ubel? Gak usah malu, Masa lalu adalah masa lalu, tenang aja. Penulis masih ingat kok nama ubel-ubel terkenal yang sering kalian bawa muter-muter. Wajahnya blasteran Arab, Kulitnya putih bersih, Body-nya semok, Rambutnya lurus. Udah ah.

Ceblung

Merupakan nama tempat bersejarah di Pekalongan, persisnya di sekitaran Tapsiun Sepur bagian belakang yang agak gelap. Namun sejatinya tempat itu memberikan banyak manfaat dan merupakan alternatif bagi kaum kelas paling bawah untuk ikut menikmati serpihan dunia malam yang tercecer. Dengan tempat apa adanya, Mereka-mereka ini bisa menuntaskan nafsu biologis dengan lawan jenis di keremangan cahaya lampu kereta yang sesekali lewat. Konotasi rendahan para pelanggan Ceblung memang tak mungkin terhindarkan, Karena cukup dengan tikar atau koran, Seolah-olah sudah bisa menjadi sehelai permadani untuk mencapai nirwana sesaat, dengan biaya yang murah meriah mencret mubal.

Mboyongsari

Berbeda dengan Ceblung yang liar, murahan dan memicu cemo’ohan, Mboyongsari menawarkan ketenangan, keamanan dan ketersediaan penjaja yang lebih variatif. Entah lokalisasi ini sejatinya legal atau tidak, Namun ternyata ada proses cek kesehatan periodik bagi para “stake holder kenikmatan” yang menjajakan diri disitu. Luas Mboyongsari tak lebih besar dari lokalisasi Ngambo atau Penundan, Namun Mbeyos (demikian istilah slang-nya) pasti memiliki cerita tersendiri bagi kakak-kakak yang usianya diatas penulis dan punya hormon yang berlebih.

tempat bersejarah pekalongan
Ini hanya ilustrasi, jangan punya pikiran yang enggak-enggak. dok : https://www.wartadesa.net

Banyak yang bilang WTS di Mbeyos cantik-cantik, sehingga pelanggan dari luar kota pun kerap mampir ke situ. Namun kini entah kabarnya, Apakah masih ada atau tidak lokalisasi asli Pekalongan tersebut. Kalau jaman dahulu, Jangankan ke Mboyongsari, Melewati kuburan Beji aja udah takut setengah mati. Pingin segera mengayuh pedal sepeda ini kencang-kencang gagiang mbandang.

Atrium dan Sri Ratu Pekalongan.

Pekalongan itu kota yang cukup moderen lho, Buktinya tahun 90-an udah ada Bioskop Atrium dengan 4 gedung pertunjukan. Mana ada bioskop keren di Mbatang atau Pemalang? Orang Batang nonton di Mustika itu rasanya udah kaya nonton di Cineplex. Jangan marah lho, fakta ini. Sama juga kaya orang Dunguni, Bioskop Cakra itu layaknya CGV bagi mereka yang hobi nonton pada dekade itu.

Berada dalam satu komplek, Pasaraya Sri Ratu dan Atrium berdiri megah di jantung kota Pekalongan. Sri Ratu adalah tempat orang berbelanja segala kebutuhan hidup, sedangkan Atrium adalah tempat hiburannya. Dengan parkir yang luas dan tempat yang representatif, Kedua nama besar itu menjadi daya tarik anak-anak muda dan kaum kelas menengah Pekalongan waktu itu untuk menikmati fasilitas yang disajikan.

Tempat bersejarah Pekalongan
Mall Sri Ratu Pekalongan. Dok : http://beritalokalpkl.blogspot.com

Masih teringat di kepala penulis, seperti yang tertuang pada lirik lagu Mimpi Yang Terbeli-nya Iwan Fals, Banyak anak-anak seusia penulis waktu itu yang sebenarnya tak mampu membeli dan hanya bisa bermimpi. Terkadang mereka terpaksa mencuri sebatang coklat yang diyakini mampu meneteskan air liur kami dan mereka sesama kaum proletar, Saat melihatnya di rak pajangan.

Kini keduanya nama itu sudah tak ada lagi. Entah bangkrut atau sudah tidak profitable lagi, Atrium tutup disusul SriRatu beberapa tahun berikutnya. Namun, Patah tumbuh hilang berganti, Kini sudah berdiri megah Hypermart, Borobudur, dan Transmart di Pekalongan sebagai pengganti pelepas dahaga kaum tukang belanja dan anak mall milenial. Termasuk penulis, Milenial!

Lapangan Perintis

Komplek olahraga lapangan perintis merupakan lahan untuk berolahraga bagi siapa saja yang ingin menggunakannya. Lapangan ini dulu kerap digunakan bertanding Sepakbola antar kelas anak-anak SMP 2 Pekalongan. Menggunakan lapangan ini tak perlu ijin, Tinggal pakai saja kalau kosong. Kalau sekarang, Lapangan ini sudah tidak ada lagi, karena sudah ter-integrasi dengan Stadion Hoegeng yang diperluas. Stadion kebanggaan warga Pekalongan ini merupakan jelmaan dari Stadion Kraton pada masa lalu.

Dahulu ada yang jual bakso enak di depan Lapangan Perintis ini, Namanya kalo tidak salah Bakso Pak Jo. Posisinya mepet dengan gedung Ditjen Anggaran di jalan Bahagia. Lapangan perintis juga kerap menghelat event Turnamen Bola voli Kapolres Cup yang kadang juga diselenggarakan di dalam komplek olahraga STM Jutek (Pembangunan). Halaman Lapangan Perintis pada masa itu sangat luas dan masih berupa suketan, bisa buat sarana berkelahi satu lawan satu.

Pasar Senggol

Pasar barang-barang antik dan bekasan ini masih eksis hingga saat ini. Dengan gang yang sempit dan tatanan tenant yang rigid, Maka layaklah pasar ini sebut Pasar Senggol. Karena orang yang lewat dalam gang-gang tersebut asumsinya akan bersenggolan. Namun yang menjadi kenangan kami sebagai anak-anak yang baru bisa naik motor dan mulai belajar ngoprek adalah : Di Pasar Senggol ada banyak tukang las yang mampu memodifikasi Muffler (Knalpot) motor 2 stroke dari suara standar menjadi suara gemerincing.

Suara knalpot yang gemerincing pernah menjadi trending pada masa itu. Jaman itu masih banyak diproduksi kendaraan 2 tak (stroke) yang suaranya sangat indah untuk di blayer. Dengan mengambil saringan yang ada dalam knalpot, Lalu di-modifikasi sedemikian rupa, Suara knalpot standar motor keluaran pabrikan Suzuki atau Yamaha bisa menjadi lebih nyaring dan mempesona. Belum lagi jika oli sampingnya di isi dengan Oli Racing yang berbau harum, Rasanya kami ini sudah kayak Frans Tanujaya atau Johny Pranata di jalanan kota Pekalongan.

Lapangan Jetayu, Tempat Balapan Bersejarah di Pekalongan

Lapangan ini sepintas hanyalah merupakan lapangan yang kerap dipakai anak-anak SMP 1, 2, 3 atau SD Panjang Wetan ber-olahraga pada pagi hari. Namun jangan salah, Pada malam harinya, Areal lapangan ini bisa berubah menjadi Sirkuit Nurburgring. Pada saat malam libur atau pada saat pagi hari setelah sahur pada bulan Ramadhan, Mulailah para rider-rider superbike lokal unjuk kemampuan menjadi yang terdepan di jalanan aspal Jetayu.

Balapan liar ini sudah menjadi agenda tahunan tak tertulis setiap kali Bulan Ramadhan tiba. Penontonnya pun berjubel hingga tak ada spasi tersisa, sehingga saat Mbeyak datang, terjadilah kekacauan dalam pelarian diri masing-masing. Ada adrenalin yang mendidih dengan cepat setiap kali terjun dalam balapan yang tak jelas start dan finish-nya ini. Di sirkuit jalanan yang benar-benar seperti ring ini, Semua peserta tak lagi mengenali siapa kawan-siapa lawan, Pemenangnya pun tak pernah ada. Asal ikut muter, tarik gas kenceng-kenceng, maka saat itulah muncul rasa nikmat tiada terkira.

balapan pekalongan
Ilustrasi balap liar.

Namun menurut penulis, sepertinya Pak Polisi (Di Pekalongan disebut Mbeyak) mungkin agak sedikit punya toleransi. Lokasi balapan sebenarnya hanya berjarak beberapa puluh meter dari dua kantor polisi terdekat yaitu Polwil dan Polres. Namun kedatangan petugas biasanya selalu sedikit terlambat untuk membubarkan kesenangan di arena balap liar tersebut. Apakah petugas kepolisian terpengaruh film-film India?

Penutup Artikel Tempat Bersejarah di Pekalongan

Demikian beberapa tempat bersejarah di Kota Pekalongan yang sanggup penulis ingat dan tuliskan di artikel ini. Mungkin dimata pembaca ada tempat lain yang lebih fenomenal namun tak terjangkau dalam ingatan penulis. Mohon kerelaan sekaligus hibaan, jika ada hal yang demikian mohon disampaikan pada penulis untuk melengkapi artikel sing umbrus iki.

Nek tulisan ini tak sesuai ekspektasi anda, Berarti anda lupa baca paragraf pertama. Tulisan ini hanya sekedar mengisi waktu luang dan tak ada keterkaitan antara judul dengan isinya, Walaupun ada kata Bersejarah dalam judulnya. Namun yang ndewon maksudkan Bersejarah adalah Nostalgi kami sendiri (generasi 80-90 secara subyektif) yang terkait dengan tempat-tempat tersebut. Nggak paham kan? Sama! Bedu tok!

Oh iya, Pada artikel diatas banyak terdapat penggunaan Dialek Pekalongan, Kalau bingung mengartikannya, Anda bisa membuka halaman Kamus Dialek Pekalongan  untuk mengetahui arti dan penggunaan kata dalam contoh. Anda orang Pekalongan kan? Mosok kokui be ora paham, Ail otok.